bingung mau kasih judul apa, intinya apa yang ada dipikiran sudah memuncak. uda cukup ngalor ngidul. mau cerita bingung sama siapa. cuma bisa nulis sambil nangis. iya nangis, senjata paling akhir untuk bilang pasrah dengan halus. paling enggak buat dada jadi gak sesak. maklum cewe karakternya emang mau dihalusin. setiap hidup memang punya babak yang berbeda-beda. meng-underestimate sesuatu itu memang berbahaya. apa lagi kalau yang dihadapin itu bukan lah hal biasa. ini soal 'etika' manusia dengan manusia. jujur ya saya itu tipe orang yang suka lost control dengan yang namanya emosi, jadi untuk mengobati itu saya cuma bisa menulis sambil menangis, agar tidak menyakiti hati orang lain. saya cuma mau fokus untuk menjadi yang lebih baik. disetiap detik, saya kehabisan tenaga untuk melampiaskan segala amarah hanya memikirkan hal yang sama sekali enggak penting untuk dipikirin. saya seperti enggak punya temen disini, ada hal yang saya susun sedemikian rapi, namun tetap saja setelah menjulang tinggi dia akan runtuh dan menyisakan puing-puing. sedih. saya benar-benar sedih.
saya bingung untuk memulai kata, karena saya tak begitu bisa untuk berbicara. taukan gimana jadinya jika setiap aib kita umbar ke zaman serba informasi sepeti sekarang ini?? FATAL. saya cuma bisa mengelus dada untuk hal yang membuat saya pribadi jengkel. namun, positifnya saya bisa terasah menjadi lebih baik. jujur saja, saya bertambah menjadi lebih bertenaga dengan hal ini. karena menurut saya itu perbuatan seorang pengecut yang hanya bisa melihat kekurangan orang lain. setidaknya Rasulullah telah mencontohkan yang baik agar memberi kasih sayang kepada orang-orang yang telah menyakiti kita, berlemah lembut kepada sesama muslim, tetap melupakan keburukannya dengan senantiasa melihat setiap kebaikan orang yang telah menyakiti. setidaknya ini adalah sebah pembelajaran agar menjadi lebih baik. Ya Allah... Kuatkan kami untuk menjadi yang lebih baik karena Mu.
"jika ada orang hina, kemudian dibalas menghina maka akan ada 2 orang hina"~anonim
