SELAMAT DATANG

Senin, 24 Agustus 2015

Karena Sepi, Tak Harus Sendiri (Doa)

Rindu teramat sangat,
entah apa yang membuat hal itu terus melayang pada pikiranku. 
Hilang, menjadi kosong kata-kata untuk diungkapkan, 
bahkan mampu membuat raga menjadi bisu...
Seakan mati, bahkan takmampu melakukan sembah simpuh pada haribaanNya.
Menampilkan ketidakberdayaan,
penuh harap untuk sedikitnya kebanggan yang ingin di raih... 
Semua mimpi pernah terangkai indah dalam ruang kosong, seketika sirna hanya dengan buaian kalimat indah penuh harap... 
Bohong! hawa nafsu yang mereka lontarkan itu penuh kepalsuan, lenyap harapan dan mimpi-mimpi  menjadi sunyi, sepi dan aku hanya ingin sendiri... 
sendiri, hanya sendiri bersama kesepian...
namun, penggalan puisi ini mengingatkanku: 
Doa
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling 

(Chairil Anwar)

Remuk jantungku, sakit jiwaku!
aku ingin sendiri, hanya sendiri tapi sentuhan itu datang entah belaian hangat dari mana, mengangkat jiwa ragaku petikan bahasa hamba pada TuhanNya yang tulus mengobati jiwa yang telah lama mati, petikan doa itu mengalir masuk kedalam tubuh yang lemah ini....
penggalan doa apalagi yang kuminta, apa lagi!
namun desah suara pada buku Sirah seakan berbicara padaku, semakin terngiang, tak henti, aku sedih menangis dengan lirih mendengar ini.....



"Ya Allah, hanya Padamu aku mengadukan tentang ketidakberdayaan ku, sedikitnya tipu daya mereka dan kehinaanku di hadapan manusia, wahai zat yang maha penyayang diantara para penyayang 
 ya Allah Engkau tuhan bagi orang-orang lemah, dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapa lagi Engkau membuatku berat? kepada yang jauh disana yang datang dengan wajah geram penuh kebencian, atau kepada mereka musuh yang Engkau jadikan berkuasa atas urusanku? Seandainya aku tidak takut pada amarahMu, tentunya aku tidak akan perduli lagi, akan tetapi kegunganMu yang paling tampak terbentang luas dihadapanku,hanya padaMu aku berlindung di bawah cahaya  WajahMu yang dengannya kegelapan-kegelapan menjadi bersinar, dan karenanya kehidupan dunian dan Akhirat menjadi baik, hanya karenaMu aku kembali......
terbebas dari keburukan hingga Engkau meridhaiku, dan tiada daya dan kekuatan 
melinkan kekutanMu, kekasih Mu Muhammad SAW"

Jawaban atas semua sikap, dalam untaian doa sudah cukup melupakan luka yang pernah teriris. hangat, tubuhku hidup lagi masih mengukir mimpi-mimpi indah menandakan aku untuk menjadi apa yang dimintaNya, tanganNya masih memegang erat jiwa yang sudah mati...ketika kala itu menganggap sendiri bertemankan sepi, aku malu pada Mu, pada Tuhanku yang tak pernah bersembunyi pada kesendirian rindu ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar